Banjir lagi..
Seiring dengan dimulainya musim hujan, banyak media sudah menulis waspada banjir. Bahkan gubernur baru DKI, malah bilang banjir di Jakarta tidak bisa dihindari, dan dia siapkan kapal.
Kalo cuman begitu aja, gampang sekali tugas gubenur. Pemerintahan kita terlalu senang dengan reaktif action daripada preventif action. Lebih senang menggunakan reaktif management, daripada preventif management. Sebabnya banyak. Ada sebab politis, ada sebab birokrat yang males dan cuman mau kerjaan rutin, tidak mau mikir jauh.
Kalo cuman menghadapi banjir dengan nyediain kapal, ndak perlu lah pak Gubernur. Tidak perlu pemerintahan kalo cuman bisa begitu. Keliatan banget dari dulu tidak ada usaha yang all out. Selalu saja reaktif terus lupa. Begitu seterusnya bangsa ini. Tidak cuman Gubernur DKI, tapi presidennya, apalagi menteri2nya, paling jago reaktif management. Secara politis dengan reaktif, mereka jadi populer. Bicara lantang sana sini, usul ini itu, kunjung sana sini, koar sana koar sini, sumbang sana sumbang sini. Kalo preventif management kan tidak terlihat. Bencana tidak terjadi, sehingga yang bekerja preventif tidak populer.
Ya begitulah budaya Indonesia, yang diharagi adalah yang reaktif dan suka koar2, mengabaikan yang bener2 bekerja dan telaten, tidak kelihatan. Orang yang reaktif, suka koar2 dan sering cari muka, dan bagusnya lagi suka salahin sana sini, sehingga dia keliatan paling jago, itulah yang dihargai di negeri ini. Sungguh budaya yang mematikan.
Orang2 seperti itu biasanya diibaratkan nginjak kepala orang sehingga dia tidak tenggelam, tetapi yang dia injak tenggelam. Budaya bangsa ini memang seperti itu. Hargailah orang yang suka koar2, suka menjilat, suka cari muka. Hargai setinggi2nya. Makanya banyak generasi muda yang tidak suka bekerja, cita2 jadi ketua ini ketua itu, lalu bicara sana sini, terus jadi populer, tapi soal eksekusi dan implementasi nol besar.
Selamat telah menjadi bagian bangsa ini.



