Budaya Penjajahan
Budaya Penjajahan
8 Februari 2006 01:06:36
Oleh: A Mustofa Bisri
Boleh jadi karena terlalu lama dijajah oleh penjajah asing maupun oleh bangsa sendiri kita sulit melepaskan diri dari budaya dan mental penjajahan. Yang kuat selalu ingin dan berlagak menjajah yang lemah.
sebaliknya yang lemah selalu menerima nasib diri untuk dijajah atau menjilat yang kuat atau kalau tidak tahan dan punya sedikit nyalimelakukan perlawanan alias berontak
Maka dari dulu, bangsa kita khususnya dalam kaitan kekuasaan sepertinya hanya memiliki tiga karakter utama: karakter penjajah; karakter rakyat jajahan; dan karakter pemberontak. Mereka yang memiliki karakter penjajah biasanya segera dapat dilihat dari sikap serakah, arogansi, suka memaksa, dan sewenang-wenang. Sedangkan karakter rakyat yang terjajah, terlihat dari cirinya yang serba tidak berdaya; yang licik menjilat, yang pengecut cari muka.
Sementara karakter pemberontak mencuat melalui perilaku emosional, nekat, dan membabibuta. Masing-masing karakter itu bisa ada pada siapa saja dalam kedudukan apa saja. Karakter penjajah, misalnya, tidak harus ada pada mereka yang berkuasa dalam pemerintahan; karena karakter itu pada hakikatnya muncul akibat ketidakmampuan melawan penjajahan dari nafsu berkuasa.
Sedikit kekuasaan yang ada, sudah cukup membuat yang bersangkutan berkelakuan penjajah. Lihatlah, misalnya, suami yang menjadi penjajah atas istri dan anak-anaknya; guru yang menjajah murid-muridnya atau kiai yang sewenang-wenang terhadap santri-santrinya; sopir bus yang merajalela di jalanan; pemimpin partai yang menjadi penjajah atas anggota-anggota partainya; wakil rakyat yang membohkan dan membodohi rakyat; massa yang memaksakan kehendak di jalanan, dsb. dst.
Demikian pula sebaliknya; bisa saja terjadi seorang yang memiliki atau merasa pantas memegang kekuasaan justru berkarakter rakyat yang terjajah atau pemberontak, seperti yang saat ini bisa disaksikan di mana-mana. Jadi ketiga karakter itu bisa juga menyatu dalam diri seseorang. Sedikit kelemahan saja terkadang sudah cukup membuat seorang yang memiliki kekuasaan, misalnya, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh mereka yang tidak berdaya atau berlaku emosional bagaikan pemberontak.
Dia kadang ‘memohon’ atau menyogok bawahannya untuk tetap mendukungnya atau menutupi aibnya dan kalap ketika kedudukannya terancam atau merasa kekuasaannya tak dihormati. Saat ini ketiga karakter penjajah, rakyat jajahan, dan pemberontak itu malah muncul bersamaan dengan jelas. Para penjajah bisa dengan mudah kita temui di di kantor-kantor partai di segala tingkatan. Kata-kata mereka adalah sabda pandita ratu yang tak boleh dibantah.
Merekalah yang menentukan nasib para jajahan mereka yang ingin merasakan kekuasaan atau mempertahankannya. Mereka yang terakhir ini, terutama yang merasa berbakat penguasa, akan berusaha merebut kekuasaan dengan cara anak jajahan atau cara pemberontak. Merunduk-runduk atau bahkan menjilat sana-sini atau memaksakan kehendak kesana-kemari.
Pendek kata, apa pun mereka bersedia melakukannya, asal keinginan mereka terpenuhi. Bila keinginan mereka misalnya ingin namanya masuk daftar nomor kecil tak tercapai, mereka pun meradang dan siap melakukan ‘pemberontakan’. Yang lain cukup menjadi penonton dan menunggu para penjajah dan calon penjajah itu merayu mereka. Sampai kapankah mental penjajah-jajahan itu terus menghinggapi kita? Insya Allah selama kita tidak mau hanya dijajah Tuhan kita, Allah Yang Mahakuasa, maka kita akan menjadi jajahan siapa saja; termasuk oleh diri kita sendiri. Laa ilaaha illallah!
Source : http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=11&id=227




December 13th, 2007 at 2:43 pm
[...] Sedangkan Cari Muka dan Penjilat, didapatkan referensinya di : Budaya Penjajahan.. [...]