My Mind, My Heart, My File

The Outsider
Subscribe
Your Ad Here Your Ad Here
Akses Internet Murah

Archive for the ‘Renungan’

Penyakit Eksekutif - Executive Disease

December 16, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

Penyakit Eksekutif

Kehilangan makna hidup sebagai akibat dari pekerjaan yang sangat mekanis, serta tujuan hiudp yan dangkal hanya sekedar pencarian kenikmatan hidup duniawi, menyebabkan manusia harus bergerak dengan irama yang tinggi., memburu waktu dan mengisinya dengan aktivitas kerja yang sangat tinggi.

Nyatanya banyak dai mereka yang berhasil dan mampu membelanjakan jutaan rupiah untuk membeli kesenangannya untuk membeli kesenangannya. Padahal apa yang dilakukan dengan berbelanja atau meramaikan tempat hiburan, merupakan kompensasi dari jiwanya yang kosong.

Frankl memberikan julukan frustasi eksistensial untuk para eksekutif tersebut dengan istilah “penyakit eksekutif” (executive disease), karena mereka mencurahkan tenaga dan pikiran serta menghabisak sebagian besar waktu pada pekerjaan (workaholic). Bagaikan dibius mereka terperangkap dalam pola hidup mekanis untuk memenuhi keinginannya mencari kekuasaan melalui perolehan uang sebagai tujuan utamanya.

Perilaku eksektuif tersebut, membawa akibat pula terhadap istri di rumah. Perubahan status tempo kerja suami membuat istri harus menyesuaikan diri, bahkan ada semacam keterkejutan yang amat tinggi, sehingga kadang mereka berperilaku berlebihan sebagai kompensasi dari tingkat kemakmuranyang berlebihan. Frankl menyebutnya dengan Mrs. Executive disease, penyakit nyonya eksekutif.

Pada saat suaminya dilanda situasi hidup yang didera oleh pekerjaan dana berusaha mengisi kekosongan batinnya dengan melarikan diri jaringan kerja uyang makin kompleks untuk meniti karir dan meningkatkan pendapatan, istri para eksektuif cendeung berusaha mencari kompensasi kekosongan batinnya dengan jalan melaksanakan berbagai aktifitas kompensatori mengejar kesenangan yang membius diri. Antara lain, pesta pesta cocktail, menggosip, pesta kartu, bahkan berjudi, melarikan diri pada alcohol atau memenuhi hawa nafsunya untuk berbelanja yang terkadang tidak lagi rasional cara mereka membelanjakan uangnya. Apabila Descartes berkata: Cogito Ergo Sum. Aku berpikir maka aku ada, dan para Nyonya Eksekutif, seakan [unya motto sendiri: “aku ada karena aku belanja”.

Kekuasaan serta terbukanya kemudahan dan kesemapatan, menyebabkan segala keinginannya harus dapat dipenuhi, dalam waktu yang singkat dan sebanyak banyaknya. I want it all, I want it now.

Para eksektuif membius diri dengan mencari pelarian pada kekuasaan, sedangkan para istrinya cenderung mengkompensasikan frustasi eksistensialnya pada berbagai kesenangan bendawi dan luxuries. Lebih parah lagi menurut Frankl kedua duanya bisa terjebak pada situasi dipsomania (gila judi dan gila seks). Perselingkuhan, back street serta berbagai affair cinta, menjadi petualangan mereka yang mengasyikan. Penyakit yang didera mereka tentu saja bukanlah penyakit klinis, atau dengan meminjam istilah Frankl, mereka mengidap neuorisis neoogetik, kehilangan kebahagiaan secara spiritual, dan hampanya makna hidup.

Itulah sedikit cuplikan dari buku Dimensi Doa dan Dzikir, Toto Tasmara. Dan memang fenomena itu bahkan sangat umum terjadi dimana. Bukan hanya para eksekutif, bahkan merambah pada setiap orang, mau eksektuif atau bukan, kaya atau tidak. Kita juga melihat bahwa tempat tempat hiburan dan perbelanjaan tumbuh secara gila gilaan, itu karena tingginya permintaan.

So choice is yours.

 

Jangan Membebani Diri Diluar Kemampuan

December 09, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

Jangan Membebani Diri Diluar Kemampuan

Diriwaytakan oleh Al Halaj sh Sufi, bahwa ia duduk di bawah terik sinar matahari, disiang hari yang panas. Keringatnya mengucur deras. Beberapa orang yang tergolong orang pandai berjalan melewatinya. Orang orang itu berkata: “Hai orang bodoh, beginikah caranya engkau memamerkan kekuatanmu pada Allah?”

Sungguh indah ungkapan yang diucapkan oleh orang pandai tersebut. Sesungguhnya Allah hanya menetapkan beban bagi hamba-Nya didasarkan pada kebalikan dari tujuan hamba. Terkadang, hal itu Allah lakukan melalui penekanan pada posisi hamba dengan beban, sehingga kesabaran hamba tersebut menjadi habis. Oleh itu, orang yang sangat bodoh adalah orang yang membiarkan dirinya lapar, atau orang yang justru meminta diturunkannya kepadanya ujian . Sebagaimana dikatakan oleh orang yang tidak menggunakan akalnya: “ Bagaiana menurut kehendak Allah sajalah, kalian hendak menguji aku”

Source : Shaidul Khatir Ibnul Jauzy

Meaningful Happiness

November 29, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

Meaningful Happiness

A Tract Book Essay By Anthony J. Fejfar

© Copyright 2006 by Anthony J. Fejfar

Aristotle argues that the end of a human being is happiness, and that ultimate happiness is found in contemplation of The Good, or Being, or as some might say, God. While this sounds pretty good to me, something bothers me about the whole thing. You see, I’ve been in circumstances when I am happy, sort of, but yet something still isn’t right. Maybe it’s that part of me is happy and part of me isn’t.

Now, here’s the problem. We now live in a post Orwellian 1984 environment. Remember in the book 1984, everybody was given a happiness drug. I think it was called soma. So, everybody laid around in their chairs, on soma, happy. The problem with this is that this seems wrong to me. I think somehow that soma happiness shouldn’t count. Something more is needed.

I argue that the real end of a human being is meaningful happiness. You shouldn’t have to qualify happiness, of course, but then there is the soma problem. So, I think that you do have to qualify happiness, and that happiness, to be true happiness, must be meaningful happiness. What I am doing when I say that happiness must have meaning? Somehow I know. What is meaning? Meaning is that which is found meaningful. Meaning involves the attainment of an end in a way which satisfies the person’s desire for meaning. Meaning is perhaps an accomplishment. It is the idea of getting something done which is worthwhile. Perhaps, meaning means obtaining the worthwhile, and perhaps, meaningful happiness is found in the truly worthwhile. If so, Bernard Lonergan was right in saying that the goal of the ethical person is the truly worthwhile.

November 29, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

 Meaningful Happiness

A Tract Book Essay   By  Anthony J. Fejfar

© Copyright 2006  by Anthony J. Fejfar

              Aristotle argues that the end of a  human being is happiness, and that ultimate happiness is found in contemplation of  The Good, or Being, or as some might say, God.   While this sounds pretty good to me, something bothers me about the whole thing.   You see, I’ve been in circumstances when I am happy, sort of,  but yet something still isn’t right.  Maybe it’s that part of me is happy and part of me isn’t.

            Now, here’s the problem.   We now live in a post Orwellian 1984 environment.    Remember in the book 1984, everybody was given a happiness drug.  I think it was called soma.    So, everybody laid  around in their chairs, on soma, happy.   The problem with this is that this seems wrong to me.   I think somehow that soma happiness shouldn’t count.  Something more is needed.

             I argue that the real end of a human being is meaningful happiness.  You shouldn’t have to qualify happiness, of course, but then there is the soma problem.   So, I think that you do have to qualify happiness, and that happiness, to be true happiness, must be meaningful happiness.   What I am doing when I say that happiness must have meaning?  Somehow I know.   What is meaning?  Meaning is that which is found meaningful.   Meaning involves the attainment of an end in a way which satisfies the person’s desire for meaning.    Meaning is perhaps an accomplishment.   It is the idea of getting something done which is worthwhile.   Perhaps, meaning means obtaining the worthwhile, and perhaps, meaningful happiness is found in the truly worthwhile.  If so, Bernard Lonergan was right in saying that the goal of the ethical person is the truly worthwhile.

Human Relations

November 28, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

Human Relations

    The six most important words: “I admit I made a mistake.”

    The five most important words: “You did a good job.”

    The four most important words: “What is your opinion.”

    The three most important words: “If you please.”

    The two most important words: “Thank you,”

    The one most important word: “We”

    The least most important word: “I”

    - Author unknown

Apakah Yang Memberi Kekuatan untuk Hidup dan Berjuang?

November 27, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

Apakah Yang Memberi Kekuatan untuk Hidup dan Berjuang?

Banyak alasan atau dorongan yang membuat orang bisa terus hidup dan berjuang, padahal sangat berat. Entah itu alasan kepercayaan, cinta, kewajiban, keterpaksaaan, keluarga, tantangan, dan lain lain.

Tapi menurut saya, yang paling penting adalah pengorbanan untuk yang lain. Hidup untuk yang lain. Kalo cuman untuk diri sendiri buat apa? Kalo kita cuman sendiri, mau apa? Kita ada karena ada yang lain. Kalo cuman untuk diri sendiri, mungkin sudah sejak lama kita sudah menyerah terhadap hidup ini.

Hidup untuk yang lain, untuk sesama, begitulah timbal balik, take and give. Betapa indah bisa memberi dan meringankan beban orang lain. Bukan mereka sebenarnya yang membutuhkan yang memberi, tetapi dua2nya butuh dan saling membuat “kehidupan”. Itulah kehidupan dan alasan serta kekuatan untuk hidup

 

 

Dalam hening…

November 25, 2007 By: Agus Indarto Category: Renungan, Tulisan No Comments →

Dalam hening…

 

Ya Robbi

Dalam rindu yang memburu

Kuhardik dunia yang terus merayu

Aku tersungkur diatas mihrabMu

Puaskanlah dahaga cintaku

Ya Robbi

Betapa hamba hanyalah debu

Debu dalam debu

Yang merindu, yang mengharap karunia-Mu

Puaskanlah lelah pencarianku

Untuk menyingkap rahasia-Mu

Ya Illahi

Betapa mungkin hamba menyentuh-Mu

Karena Engkau Maha Tak Terjangkau

Tetapi

Karena cinta-Mu dan keyakinanku

Penghalang apakah yang menghambat

Haus dahaga hamba yang merindukan sentuhan cinta-Mu

 

Source : Doa & Dzikir by Toto Tasmara

 

 

 

 

 

Your Ad Here
Akses Internet Murah