Penyakit Eksekutif - Executive Disease
Penyakit Eksekutif
Kehilangan makna hidup sebagai akibat dari pekerjaan yang sangat mekanis, serta tujuan hiudp yan dangkal hanya sekedar pencarian kenikmatan hidup duniawi, menyebabkan manusia harus bergerak dengan irama yang tinggi., memburu waktu dan mengisinya dengan aktivitas kerja yang sangat tinggi.
Nyatanya banyak dai mereka yang berhasil dan mampu membelanjakan jutaan rupiah untuk membeli kesenangannya untuk membeli kesenangannya. Padahal apa yang dilakukan dengan berbelanja atau meramaikan tempat hiburan, merupakan kompensasi dari jiwanya yang kosong.
Frankl memberikan julukan frustasi eksistensial untuk para eksekutif tersebut dengan istilah “penyakit eksekutif” (executive disease), karena mereka mencurahkan tenaga dan pikiran serta menghabisak sebagian besar waktu pada pekerjaan (workaholic). Bagaikan dibius mereka terperangkap dalam pola hidup mekanis untuk memenuhi keinginannya mencari kekuasaan melalui perolehan uang sebagai tujuan utamanya.
Perilaku eksektuif tersebut, membawa akibat pula terhadap istri di rumah. Perubahan status tempo kerja suami membuat istri harus menyesuaikan diri, bahkan ada semacam keterkejutan yang amat tinggi, sehingga kadang mereka berperilaku berlebihan sebagai kompensasi dari tingkat kemakmuranyang berlebihan. Frankl menyebutnya dengan Mrs. Executive disease, penyakit nyonya eksekutif.
Pada saat suaminya dilanda situasi hidup yang didera oleh pekerjaan dana berusaha mengisi kekosongan batinnya dengan melarikan diri jaringan kerja uyang makin kompleks untuk meniti karir dan meningkatkan pendapatan, istri para eksektuif cendeung berusaha mencari kompensasi kekosongan batinnya dengan jalan melaksanakan berbagai aktifitas kompensatori mengejar kesenangan yang membius diri. Antara lain, pesta pesta cocktail, menggosip, pesta kartu, bahkan berjudi, melarikan diri pada alcohol atau memenuhi hawa nafsunya untuk berbelanja yang terkadang tidak lagi rasional cara mereka membelanjakan uangnya. Apabila Descartes berkata: Cogito Ergo Sum. Aku berpikir maka aku ada, dan para Nyonya Eksekutif, seakan [unya motto sendiri: “aku ada karena aku belanja”.
Kekuasaan serta terbukanya kemudahan dan kesemapatan, menyebabkan segala keinginannya harus dapat dipenuhi, dalam waktu yang singkat dan sebanyak banyaknya. I want it all, I want it now.
So choice is yours.





